hit counter
YOONA by darlingkr
40/365 days of flawless Yoona
你的世界♬ on We Heart It - http://weheartit.com/entry/48535881/via/yel_lusifer
Menulis atau menyatakan sesuatu yang hal itu belum terjadi, pernah melakukannya? Masih ingat zaman SD, SMP, SMA, atau kuliah dulu saat menargetkan berapa angka yang harus dicapai untuk kelulususan kita? Nah, itu yang sedang saya lakukan sekarang.
Menikah, memang kayaknya masih jadi bayang-bayang dalam pikiran kita, entah kapan itu akan terjadi. Semakin dewasa, kita terjebak di realita dunia yang dahsyat, sampai-sampai membangun impian pun jadi takut. Merasakannya?
Apalagi kalo bahas soal memutuskan untuk menikah. Kita lagi-lagi terjebak di dalam realita dunia seperti ini… itu… dan gak berani untuk membangun sebuah kapal impian.
Saya bukan omong doang, tanpa aplikasi, atau apapun lah pernyataan yang menyerang tulisan ini. Tapi, ini adalah tulisan memotivasi diri (syukur untuk orang lain), membangun keberanian dalam memutuskan untuk menikah. Lagipula, katanya kalo menyampaikan walau cuma satu ayat, dapet pahala kan? Amiiiiiin….. :D
Ini adalah bahasan lanjutan dari tulisan sebelumnya. Cekidot!
Oke, bahasan malam ini untuk jawab pertanyaan, ‘Mapan dulu baru nikah, atau nikah dulu biar mapan?’ Pernah ada peserta seminar curhat,
“Ada temen saya (female) yg gak mau nikah sampe usia 27 tahun, mau kerja dulu dan kumpulkan tabungan.”
“Kenapa?” saya penasaran.
“Karena khawatir jika sudah nikah, gak diberi izin kerja oleh suami. Sayang kuliah lama-lama gak kepake ilmunya dan mau kumpulkan uang untuk tabungannya sendiri. Jadi kalau ada apa-apa dgn pernikahannya, tetep bisa mandiri.” begitu katanya.
Dari situ saya simpulkan bahwa standar mapan untuk perempuan itu adalah: berpengalaman kerja dan punya tabungan, sebagai cadangan sendiri.
Saya pertanyakan pada pemikiran perempuan di awal tadi, “Apakah yakin di usia 27 nanti akan ada yang meminang? Bagaimana jika usia 24 sudah ada?”
“Lalu seberapa besar sih ‘tabungan yang cukup’ itu? Dan apakah yakin di usia 27 sudah terkumpul?”
Intinya adalah, “Jika menikah itu rezeki, kenapa sih harus membatasi rezeki kita sendiri dengan pasang minimum usia 27 misalnya?”
Mengenai kekhawatiran tidak diizinkan bekerja jika sudah menikah. Saya pertanyakan, “Bukankah bisa dibahas saat taaruf?”
Dan apakah aplikasi ilmu kuliah harus dengan bekerja? Di bidang yg sama? Jika tidak, apa disebut percuma kah kuliahnya?
Peserta seminar yang laki-laki biasanya beda. Apa sih standar mapan mereka?
Rata-rata menjawab, “Punya rumah dan kendaraan sendiri, karir bagus.”
Kepada pemuda yang bilang harus mapan dulu, punya rumah dan kendaraan sendiri, karir yg mapan baru menikah. Saya kasih pertanyaan sederhana…
Kalo baru berani melamar setelah punya rumah, mobil, dan karir bagus, kira-kira diterima karena diri anda sendiri, atau karena rumah, mobil, dan karirnya?
Simak obrolan saya dengan pemuda tadi,
“Saya gak berani nikah kalo belum punya rumah dan mobil.”
“Kenapa?”
“Siapa yang mau kalo belum punya itu?”
“Jadi, baru berani nyari calon setelah punya itu?”
“Iya!”
“Kalo belum punya?
“Susah lah dapetnya…”
“Jadi yang dicari sebetulnya cewek kayak gimana? Cewek yang bisa menerima si mas, apa cewek yang maunya cuma sama orang yang sudah punya rumah dan mobil aja?”
“………. iya juga ya.” katanya
Punya rumah dan mobil saat menikah itu bagus! Tapi, menunda menikah karena belum punya rumah dan mobil, itu konyol.
Tapi bagaimana kalo calon mertua yang mensyaratkan harus punya ini itu dulu baru boleh nikah? Statusnya calon kan ya? Sekali lagi, masih calon kan? :D
Tak perlu menunggu mapan untuk menikah, selama sudah berpenghasilan bisa menafkahi keluarga, sudah layak untuk menikah.
Yang kasian adalah… nunggu mapan dulu baru berani menikah, tapi gak mapan-mapan juga ampe tua, duh…!
Sebelum lanjut, perlu dijelaskan kalo saya konsultan keuangan, bukan konsultan pernikahan, jadi cuma bahas dari sisi finansial aja ya :)
Siapa yang hobi naik gunung? Jalan nanjak nembus hutan beberapa jam, setelah sampe puncak pasti puas banget. Lihat pemandangan indah dan foto-foto.
Setelah turun, coba kasih liat foto pemandangan yang luar biasa indah itu ke teman yang gak ikut naik gunung. Sama terpesonanya seperti kita?
Kenapa temen yang gak naik gunung tidak terlalu terpesona dengan fotonya? Apa karena fotonya jelek? Bukan. Karena ia cuma ‘melihat’, tapi tidak ‘merasa.’
Yang membuat pemandangan menjadi sangat indah, karena perlu usaha naik gunung untuk melihatnya. Yang cuma liat foto aja tidak merasakan usahanya.
Silahkan analogikan pemandangan tadi sebagai kekayaan. Beda banget rasanya ‘teman yang ikut nanjak,’ dengan ‘teman yang cuma liat fotonya.’
Mapan tidak selalu bisa membuatmu lebih mudah dalam menikah. Tapi, menikah bisa membuatmu lebih mudah menjadi mapan.
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS An-Nur: 32)
Ada yang tanya,
“Kalo belum punya rumah nanti tinggal dimana?”
“Ngontrak! Gitu aja kok repot..” :D